Perbedaan watak 3 ksatria Jepang

Menjelang pertengahan abad keenam belas, ketika keshogunan Ashikaga ambruk, Jepang menyerupai medan pertempuran raksasa. Panglima-panglima perang saling memperebutkan kekuasaan. Tapi kemudian muncul tiga sosok besar yang bersinar seperti meteor yang melintasi malam.

Ketiga laki-laki itu sama-sama bercita-cita untuk menguasai dan mempersatukan Jepang namun sifat mereka berbeda satu sama lain. Nobunaga, yang mempelopori penyatuan jepang memiliki watak gegabah, tegas dan brutal. Hideyoshi yang awalnya adalah kepercayaan Nobunaga, berwatak sederhana, halus, cerdik dan menyeluruh. Sedangkan Ieyasu lebih senang menunggu karena pembawaannya sabar, tenang dan penuh perhitungan.

samurai, pedang, ksatria, jepang jaman dulu
Falsafah-falsafah mereka yang berlainan itu sejak dulu diabadikan oleh orang Jepang dalam sebuah sajak yang diketahui oleh setiap anak sekolah :

Bagaimana jika seekor burung tidak mau berkicau?

  • Nobunaga menjawab, “Bunuh Saja!”
  • Hideyoshi menjawab, “Buat burung itu ingin berkicau.”
  • Ieyasu menjawab, “Tunggu”

Ayo anda akan menjawab apa jika diberi pertanyaan yang sama?
(dari novel TAIKO, Eiji Yoshikawa)

About these ads

12 responses to “Perbedaan watak 3 ksatria Jepang

  1. Orang jaman dulu memang bijak-bijak. :oops:

    Saya kalo diberi pertanyaan begitu, saya akan jawab:

    Biar saja, saya tak mengerti bahasa dan bahasa tubuh burung

    :lol:

  2. Kereeeen ! Awesome Philosophy dalam sebuah kisah patriotik, pasti seru ya membaca Novel ini :)

    “Membunuhnya sama sekali bukan jalan keluar. Tunggu dan fikirkan sesuatu… karena pasti ada cara untuk membuatnya berkicau”

    Hal sama ( Tegas dengan cara yang Halus dan Cerdik dibarengi dengan Kesabaran dan Penuh Perhitungan ) bila diterapkan oleh ‘Pendekar Hukum’ disini ( di Indonesia ) sepertinya akan cukup berhasil untuk membuat para “Pembajak Bangsa” ini berkicau membongkar boroknya sendiri juga borok sekutu-sekutunya he he :wink:

    Salam Kenal
    Happy Blogging & Keep Sharing

  3. kalau saya, lebih membiarkan burung itu yang memilih pilihan hidupnya..
    salam kenal, lama ga jumpa mas.. soalnya saya dari dulu jarang ngeblog nih.. hehe..

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s